Sabtu, 24 Oktober 2020

SIAPAKAH AKU?


Prolog

Sophie melongok ke kotak suratnya. Ia sering kali menemukan iklan produk barang untuk ibunya atau surat transaksi keuangan dari bank untuk ayahnya. Saat memilah surat-surat di tangan, mata sophie terpaku pada sebuah amplop putih tanpa nama pengirim dan perangko yang ditujukan padanya. Sophie Amundsen, 3 Clover House. Ia menemukan secarik kertas bertuliskan tangan yang terbungkus amplop. Sebuah kalimat pendek berakhir dengan tanda tanya besar tertuju kepadanya. Siapakah engkau? Sophie awalnya beberapa saat kehilangan gagasan untuk menjawab pertanyaan pengirim surat. “Siapakah aku? 

Aku Sophie Amundsen, namun siapakah Sophie Amundsen? Bagaimana jika aku menyandang nama lain?” Sophie bergegas menghadap cermin di kamar mandi dan memandang matanya dalam-dalam. “Aku Sophie Amundsen.” Ia bertanya kepada perempuan di cermin yang mengikuti gerak tubuhnya, “Siapakah engkau?”. Pertanyaannya dijawab kesepian. Sophie kebingungan akan dirinya dan bayangan di cermin yang mengajukan pertanyaan. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada pemilik hidung di cermin. “Engkau aku.” Sophie kemudian berujar, “Aku engkau.” (Gaarder, Sophie’s World, 4-5).

 

Situasi Batas

Kisah di atas menampilkan tokoh utama bernama Sophie. Pergolakan batin Sophie  berawal dari keberadaan sebuah amplop bertuliskan “Siapakah Engkau”. Mungkin saja ini pertanyaan mudah bagi seorang Sophie jika menyangkut profil diri secara fisik. Dalam benaknya, semua informasi mengenai dirinya telah lama ia ketahui. Tampaknya ia cukup mampu untuk mengetahui namanya, usianya, pendidikannya dan lain-lainnya. Tapi, melihat gestur yang ditunjukkan Shopie, tampaknya ia pun merasa tidak yakin pada pikirannya tersebut.

Dibalik Gestur

Ekspresi Sophie yang tertegun, menyiratkan adanya keraguan mendalam dalam dirinya. Sophie berusaha merenungkan dan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tampaknya, pertanyaan itu menyentuh sisi terdalam pribadi Sophie sehingga ia harus berpikir beberapa saat lamanya. Pertanyaan itu seolah menuntut jawaban yang mutakhir tentang siapa dirinya sesungguhnya. Biasanya tidak mudah memperoleh jawaban yang tepat. semudah kita mengetahui identitas secara umum seperti nama, usia dan alamat. Sophie tampaknya sedang mengalaminya.

Profil Identitas

Pribadi manusia dapat dikenali dari dua sisi yaitu sisi luar (eksternal) dan sisi dalam (internal). Sisi luar adalah profil manusia dilihat dari sisi yang dapat dilihat oleh panca indera. Contohnya ciri-ciri fisik, identitas diri  (nama, alamat dan lain-lain). Sisi dalam manusia menyangkut karakter dan sikap yang tampak dalam aktifitas sehari-hari. Contohnya sabar, penyayang, ramah dan lain-lain.

Duc in Altum

Seringkali, manusia kurang menyadari karakter-karakter yang ada dalam dirinya. Hal ini menjangkut identitas pribadi seperti kerohanian dan psikologisnya. Manusia dapat berefleksi dan masuk lebih jauh ke dalam dirinya agar dapat mengenali dirinya dari sisi internalnya. Ia dapat berkenalan dengan berbagai aspek pribadi yang dimilikinya.

Berdasarkan situasi batas pengalaman Shopie tersebut, baik Sophie maupun pembaca seolah diajak untuk mengenali identitas pribadinya dari sisi dalam. Identitas pribadi itu meliputi karakter, sifat dan  sudut pandang menyangkut eksistensi dan aktualisasi diri masing-masing pribadi.

Makna Hidup Pribadi

Manusia perlu mengenal dirinya lebih dekat. Tak kenal maka tak sayang, peribahasa ini tentu sudah akrab di telinga. Pengenalan diri mendorong setiap orang mengetahui kelebihan dan kekurangannya, hal-hal positif dan hal-hal negatif. Pengetahuan itu mendorong pula keinginan untuk merestorasi sikap dan pribadi yang kurang baik ke arah yang lebih baik dan positif. Dengan demikian, setiap pribadi menemukan makna dan hakekat pribadinya sebagai insan manusia sekaligus tanggung jawabnya dalam proses kehidupan yang dijalaninya.

Salam Literasi.

Penulis


4 komentar:

  1. Kereen tulisannya pak, i like...

    BalasHapus
  2. Menarik memang jk direnungkan. Orang sering lupa mengenal dirinya sendiri. Jadinya sibuk mencari identitas diri.

    BalasHapus