Perjalanan hidup manusia tidak selalu sesuai dengan harapan yang diinginkan atau direncanakan. Apa yang sudah dipersiapkan dan direncanakan seringkali berbeda dengan kenyataan yang dihadapi.
Hidup kita
sangat terbuka dengan dinamika kehidupan. Ada jalan berliku, halus dan terjal,
naik dan turun yang membuat kita harus jatuh dan bangun saat menjalaninya. Bagi
sebagian orang, realita dinamika kehidupan ini seringkali kurang
disadari sehingga kurang dapat diterima. Akibatnya, orang merasa frustasi,
sulit menerima kenyataan, dan mulai marah serta mempersalahkan orang lain.
Tidak jarang, orang bahkan mempersalahkan Tuhan sendiri.
Dinamika
kehidupan menghadirkan air mata dan juga senyuman. Dalam air mata, doa,
pengorbanan, dan senyuman keberhasilan, meninggalkan aneka warna jejak yang
ditinggalkan.
Kedua sisi roda
kehidupan manusia itu menuntut ketabahan terutama saat berbagai persoalan
datang mengusik hidup manusia. Selain itu, tuntutan kesabaran dan kerendahan
hati diperlukan saat kegembiraan datang menghampiri hati manusia. Keduanya
sama-sama ingin mengarahkan hati manusia agar selalu belajar akan makna
kehidupan itu.
Kadang,
perasaan terlalu lama berada "di bawah", ratapan dan keputusasaan
dalam mencari jalan keluar atas persoalan hidup terpancar melalui mata
manusiawi kita.
Belajar dari Kitab Suci
Bagi penulis, kutipan Injil Yohanes 14:12-14 berikut sangat menarik untuk terus dibaca dan dihayati berulang-ulang:
"Sesungguhnya, barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu.
Sebab Aku
pergi kepada Bapa; dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan
melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
Jika kamu
meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya."
Harapan atas sesuatu sesungguhnya menuntut satu hal yaitu tidak menyerah. Dalam kisah Kitab Suci, Injil Matius 9:27-31, ditampilkan dua figur orang buta yang biasa hidup susah, menderita dan tersingkir. Dalam kisah ini, keduanya mengikuti Yesus. Sulit dibayangkan keduanya saling menuntun dalam kondisi yang sama. Pada kenyataannya, kedua berusaha aktif, yaitu mengikuti Yesus.
Kesadaran akan sosok Yesus membawa kedua orang buta itu keluar dari situasi mereka saat itu. Mereka tidak diam saja, tidak duduk-duduk saja di pinggir jalan, tidak bertahan menanti belas kasihan orang. Keduanya segera bangkit mengikuti Yesus seraya memohon belas kasihan Tuhan.
Tindakan mengikuti
Yesus menyiratkan pesan untuk bergerak aktif. Tindakan berseru
menggambarkan keterbatasan, ketergantungan, kebutuhan manusiawi.
Dalam
menghadapi dinamika kehidupan, dua hal yang hampir sama ini tampak sulit
dibedakan, yaitu menyerah dan berserah.
Menyerah
bersifat pasif, tanpa usaha, dan kita kalah. Masa depan dilihat hanya sebagai
kegagalan dan kegelapan. Bagai ikan di dalam gelas yang hanya bisa
berputar-putar. Ketika menyerah, manusia secara tidak langsung menampilkan diri sebagai satu-satunya yang melakukan sesuatu. Ia menyandarkan kekuatannya sendiri dan kurang menyadari keterbatasan yang melekat pada dirinya. Akibatnya, ia tidak merasa tergantung dan membutuhkan Tuhan.
Berserah
bersifat aktif, terus berusaha, dan melihat masa depan sebagai titik terang
yang mau dicapai, meski saat ini, cahaya itu masih tampak samar. Manusia
berserah karena dia percaya dalam imannya. Iman memberi kekuatan rahmat dalam
dirinya untuk meyakini bahwa ada kuasa yang melebihi kekuatannya dan kekuatan
dunia yang menakutkan. Orang beriman percaya bahwa kekuatan itu berasal dari
Allah.***(kps)
Referensi:
Dr. Josep Susanto,Pr., 2017, Ketika Salib Terasa
Berat, Obor, Jakarta.
Gambar:
https://www.bola.com/ragam/read/4543861/40-kata-kata-inspirasi-agar-tidak-mudah-menyerah-bijak-dan-penuh-motivasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar