Selasa, 08 November 2022

Mencari Pemimpin yang Baik


Gambar: ilustrasi pemilu 

Menjelang Pemilu tahun 2024, kancah perpolitikan tanah air semakin menghangat. Beberapa partai politik sudah mulai menunjukkan aktivitas politiknya. Ada yang sudah menyatakan kesiapannya dengan mendeklarasikan calon presiden andalannya. Ada yang masih intens mencari calon-calon baru yang akan menduduki kursi presiden, wakil presiden, kepala daerah,dan wakil-wakil rakyat. Ada yang mulai menjalin kerjasama antar partai untuk membangun koalisi politik. 

Pemilu 2024 mendatang dilakukan secara serentak pada tanggal 14 Februari 2024. Sedangkan pemilihan kepala daerah dilakukan secara serentak pada Rabu 27 November 2024. Tentu, semarak pesta demokrasi semakin hangat dengan berbagai diskusi dan pembicaraan terkait siapa calon pemimpin di masa mendatang. Sebagai bangsa yang besar, kita tentu telah mempunyai pengalaman yang cukup panjang untuk menentukan siapa pemimpin yang layak untuk membawa masyarakat dan bangsa ini menuju ke tahap yang lebih baik lagi, lebih adil, lebih sejahtera dan lebih maju.

Namun, perlu kita sadari bahwa masih banyak kepala daerah dan wakil rakyat yang "terpeleset“ karena tindakan yang merugikan bangsa dan rakyat. Akibatnya, mereka menjadi pesakitan di mata hukum.  Ternyata, mencari seorang pemimpin seperti yang diharapkan memang tidak mudah.

Kepemimpinan Dalam Gereja Katolik

Dalam konteks iman Katolik, TUHAN YESUS mengajukan beberapa syarat pemimpin yang ideal. Pemimpin yang dimaksud sebenarnya terarah kepada murid-murid-Nya dalam rangka meneruskan tugas pewartaan Injil dari Yesus dan tugas penggembalaan jemaat. Yesus menasihatkan para murid agar jangan menjadi batu sandungan yang menyesatkan bagi umat lainnya. Bantu sandungan yang dimaksud di sini adalah menjadi penghalang, penghambat atau pemimpin yang tersesat. Nasihat ini rasanya lebih tepat ditujukan kepada "pemimpin" yang senantiasa merasa "lebih" hebat, "lebih" berjasa, "lebih" sukses dari pada pemimpin yang lain.

Meskipun Yesus mengatakan bahwa peluang terjadinya penyesatan dan kesalahan seorang pemimpin dapat terjadi, tetapi Yesus menegaskan konsekuensinya: "... celakalah orang yang mengadakannya” (Luk.17: 1). Penyesatan itu dapat berupa dengan penyebarluasan berita hoax, mengadu domba warga masyarakat dengan berbagai isu yang tidak benar termasuk isu SARA, menanamkan benih-benih permusuhan di berbagai ruang komunitas masyarakat, suku hingga menimbulkan keresahan masyarakat. Yesus mengecam dengan keras model-model pemimpin yang suka menyesatkan seperti ini. YESUS mengecamnya dengan keras: “Lebih baik baginya, jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut” (Lukas 17:2).

Pemimpin yang baik dan diharapkan masyarkat adalah pemimpin yang mampu menjaga dan menata diri, dan memiliki keterbukaan hati untuk memaafkan kekeliruan orang lain. Rasul Paulus juga mengajukan persyaratan yang ketat untuk seorang pemimpin jemaat khususnya penatua dan penilik jemaat. Paulus mengharapkan agar para penatua memiliki moralitas yang baik, dapat diteladani seperti tercermin dalam kehidupan keluarga yang rukun, damai, tertib dan apa adanya. Selain itu, para pemimpin masyarakat itu hendaknya tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan berjiwa sosial yang tinggi, bijaksana, adil, saleh dan dapat menguasai diri" (lihat Titus 1: 5-9).  

Refleksi

Butir permenungan pribadi dalam konteks hidup sehari-hari :

a. apakah saya telah memenuhi syarat sebagai pemimpin seperti diajukan TUHAN YESUS dan Rasul Paulus itu? 

b. Sebagai warga negara, apakah saya sudah siap dan mantap untuk memilih para calon pemimpin bangsa Indonesia pada Pemilu 2024 mendatang dengan kritis dan cerdas?***



Sumber gambar: https://jatim.antaranews.com/berita/639921/pemilu-2024-kpu-jatim-tindak-lanjuti-uji-coba-siakba-berbasis-teknologi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar